JagoSatu.com - Google Pixel 10 Pro XL baru saja diadu dengan Xiaomi 17 Ultra yang ditenagai Snapdragon 8 Elite Gen 5. Di atas kertas, chip Tensor G5 milik Google terlihat jauh kurang mengesankan dalam hal performa mentah. Sangat mengecewakan melihat ponsel flagship seharga belasan juta rupiah masih harus berkompromi soal urusan tenaga pacu.
Meskipun angka benchmark seringkali tidak menceritakan seluruh kebenaran, perbedaan 5% hingga 10% jarang terasa saat kita hanya menggulir media sosial. Namun, ceritanya akan sangat berbeda ketika kita mulai menjalankan game mobile modern yang menuntut spesifikasi tinggi secara konsisten. Pixel sepertinya memang tidak pernah dirancang untuk memuaskan hasrat para gamer hardcore yang haus akan kecepatan.
Berdasarkan laporan dari Android Authority, pengujian pada mode Battle Royale COD Mobile menunjukkan Pixel hanya terbatas pada 90 fps dengan grafis medium. Sementara itu, Xiaomi dengan Snapdragon-nya mampu melibas 120 fps secara stabil pada pengaturan grafis Very High. Perbedaan limitasi frame rate ini adalah bukti nyata bahwa Google masih belum percaya diri dengan ketahanan GPU miliknya.
Dalam pengujian tersebut, Pixel 10 Pro XL juga tercatat menarik daya lebih besar, mencapai rata-rata 5.8W dibandingkan hanya 3.9W pada Xiaomi. Konsistensi frame rate pada Pixel juga lebih buruk, dengan beberapa frame turun hingga ke kisaran 70 fps saat sesi permainan panjang. Boros daya tapi performa lebih rendah adalah kombinasi yang sangat tidak kita inginkan pada sebuah ponsel flagship.
Kesenjangan performa ini menjadi semakin nyata saat menguji game yang lebih berat seperti Asphalt Legends dan Genshin Impact. Sebagian besar pemilik Pixel 10 masih terjebak dengan performa yang "barely playable" alias nyaris tidak bisa dimainkan saat pengaturan grafis dimaksimalkan. Rasanya sangat miris melihat ponsel premium kesulitan menjalankan game open-world populer dengan lancar di tahun 2026.
Seperti dilaporkan oleh Android Authority, Pixel 10 Pro XL rata-rata hanya mencapai 40 fps dalam game berat tersebut dengan sesekali turun ke 35 fps. Padahal, pesaing di kelas harga yang sama sudah mampu mengunci 60 fps secara konstan bahkan hingga 120 fps di judul tertentu. Ketinggalan hampir separuh performa dari rival adalah tamparan keras bagi departemen teknik perangkat keras Google.
Google sebenarnya telah mencoba melakukan berbagai perbaikan melalui driver dan pembaruan sistem secara rutin pada seri Pixel terbaru mereka. Namun, kenyataannya kekuatan mentah dari chip buatan Qualcomm memang masih terlalu tangguh untuk dikejar oleh tim pengembang Tensor saat ini. Optimalisasi software memang penting, tapi itu tidak bisa menutupi kekurangan arsitektur hardware yang sudah ketinggalan sejak lahir.
Jika Google ingin serius memperkecil jarak ini, mereka perlu memikirkan kembali strategi GPU mereka secara mendasar dari tingkat paling bawah. Saat ini, Tensor terasa hanya didesain untuk menjadi "good enough" atau cukup baik untuk beban kerja umum pengguna arus utama saja. Flagship seharusnya tidak hanya sekadar 'cukup', tapi harus memberikan standar performa tertinggi yang bisa dicapai teknologi.
Informasi yang dikutip oleh Android Authority menyebutkan bahwa peralihan ke GPU Imagination baru dari Arm Mali ternyata belum memberikan dampak yang signifikan. Parahnya lagi, indikasi awal menunjukkan bahwa Tensor G6 tahun depan kemungkinan besar akan mendarat di bracket performa yang sangat mirip dengan sekarang. Jika strategi ini terus berlanjut, Pixel akan semakin terkubur oleh dominasi kekuatan komputasi para pesaingnya.
Haruskah para gamer menghindari Pixel 10? Jawabannya tidak sesederhana itu karena Google terus melakukan peningkatan performa secara bertahap melalui pembaruan. Untuk game lama atau emulasi moderat, seri Pixel 10 sebenarnya masih mampu memberikan pengalaman bermain yang cukup solid pada pengaturan grafis yang wajar. Pixel tetap menjadi raja di sektor fotografi dan AI, tapi jelas bukan pilihan utama untuk gaming.
Namun, jika Anda menginginkan frame rate paling mulus di setiap game terbaru, tenaga tambahan dari Snapdragon 8 Elite Gen 5 sangatlah berharga. Ponsel seperti Xiaomi 17 Ultra juga kini sudah memiliki kemampuan kamera dan fitur AI yang tidak kalah hebat dari Google. Konsumen kini punya lebih banyak pilihan ponsel bertenaga yang tidak perlu mengorbankan kualitas foto demi performa.
Dikutip dari Android Authority, tantangan terbesar Google adalah memberikan produk yang benar-benar kompetitif di level harga flagship, bukan sekadar ponsel yang "nyaris sanggup". Ekspektasi pengguna saat membayar harga premium adalah mendapatkan performa yang setara dengan kompetisi global di semua sektor. Google harus berhenti bermain aman dan mulai memberikan hardware yang setara dengan harga yang mereka banderol.
Pixel dan Tensor saat ini tertinggal sangat jauh di belakang smartphone bertenaga Snapdragon rilisan tahun 2026 yang secara rutin memberikan performa dua kali lipat. Kekhawatiran utamanya bukan hanya soal game hari ini, tapi soal seberapa tahan ponsel ini menghadapi judul-judul game masa depan yang lebih berat. Membeli Pixel sekarang terasa seperti membeli perangkat yang akan cepat 'usang' di tangan para pengguna aktif.
Bagi para penggemar yang mengutamakan alat AI dan fotografi, Pixel 10 Pro XL masih sangat masuk akal untuk dimiliki. Ponsel ini tetap memberikan pengalaman penggunaan harian yang menyenangkan dan hasil foto yang sangat konsisten di segala kondisi pencahayaan. Setiap produk punya target pasarnya sendiri, dan Google sepertinya sangat nyaman berada di zona fotografi daripada gaming.
Kesimpulannya, Tensor G5 memang sudah "cukup baik", tapi rival-rivalnya di tahun 2026 sedang melesat meninggalkan Pixel 10 di belakang. Google sangat butuh GPU yang lebih kencang agar identitas flagship pada ponsel mereka tidak semakin pudar ditelan zaman yang serba cepat. Masa depan Pixel akan ditentukan oleh seberapa berani mereka merombak jeroan Tensor di masa depan nanti. (tmtiwow)
Editor : ALengkong