KLAIM Amerika Serikat (AS) bahwa angkatan laut mereka memulai proses pembersihan Selat Hormuz dari ranjau laut dibantah keras Iran. "Klaim komandan CENTCOM (Pusat Komando AS) bahwa kapal-kapal AS mendekati dan memasuki Selat Hormuz itu sangat tidak benar," kata Juru Bicara Markas Besar Pusat Khatamul-Anbia Ebrahim Zolfaghari (11/4) seperti dikutip dari Kantor Berita Tasnim.
Zolghari memastikan bahwa Angkatan Bersenjata Iran memiliki kendali penuh atas lalu lintas kapal di selat yang menjadi jalur krusial dalam distribusi minyak serta gas dunia tersebut. Negeri yang dulu bernama Persia itu membagi ke dalam lima tier atau peringkat kapal dari mana saja yang boleh melintas. Tier teratas, misalnya, adalah negara-negara yang dianggap bersahabat, seperti Pakistan, Tiongkok, dan Rusia. Sementara itu, tanker AS dan Israel benar-benar dilarang melintas.
Pernyataan Zolghari itu muncul setelah CENTCOM mengklaim, pasukannya memulai proses membersihkan ranjau di Selat Hormuz. "Kami akan segera membagikan jalur aman ini kepada industri maritim untuk mendorong arus perdagangan yang bebas," kata Komandan Laksamana Brad Cooper.
Iran memang menanam ranjau laut di Selat Hormuz setelah perang yang dipicu serangan AS-Israel meletus. Tapi, sebelum perundingan dengan AS di Islamabad, Iran sudah menyatakan bakal merilis peta jalur aman melintasi selat sempit tersebut asal yang mau lewat berkoordinasi dulu.
Baca Juga: Negosiasi Iran-AS Terganjal Isu Nuklir dan Selat Hormuz
USS Frank E. Peterson dan USS Michael Murphy adalah dua kapal perusak rudal AS yang terlibat. Namun, CENTCOM mengatakan, pasukan AS tambahan, termasuk drone bawah air, dapat bergabung dalam upaya tersebut dalam beberapa hari mendatang.
Presiden AS Donald Trump juga sempat mengunggah pernyataan di akun Truth Social-nya tentang operasi "clearing out" tersebut. Pernyataan itu langsung direspons Garda Revolusi dengan menyatakan, kapal yang melintas tanpa izin atau koordinasi dengan Iran bakal langsung ditembak. (idr/ttg)
Editor : Pratama Karamoy