Jagosatu.com - Anggapan bahwa ikan asin merupakan makanan kelas bawah tidak lagi relevan, mengingat faktanya harga komoditas olahan ini seringkali jauh lebih mahal dibandingkan ikan segar, bahkan daging sapi atau ayam di beberapa daerah. Fenomena ini membantah persepsi umum dan menunjukkan kompleksitas rantai pasok serta nilai tambah pada produk perikanan.
Kondisi ini terlihat jelas di beberapa wilayah Indonesia, seperti Kendari, Sulawesi Tenggara, dan Kutai Barat, Kalimantan Timur. Di Kendari, harga ikan asin sunu pernah mencapai Rp115.000 per kilogram pada Januari 2018, melampaui harga daging sapi segar yang saat itu Rp110.000 per kilogram, menurut laporan Antaranews Sultra.
Tidak hanya daging sapi, ikan asin juga tercatat lebih mahal dari daging ayam potong maupun ayam kampung di Kendari, sebagaimana diungkapkan Republika. Sementara itu, jenis ikan asin teri di Kendari ditawarkan antara Rp79.000 hingga Rp94.000 per kilogram, jauh di atas harga ikan segar seperti kembung atau bandeng yang berkisar Rp29.000 sampai Rp30.000 per kilogram.
Di Kutai Barat, Kalimantan Timur, harga ikan asin biawan mencapai Rp38.000 hingga Rp60.000 per kilogram, padahal ikan biawan segar hanya dijual sekitar Rp25.000 hingga Rp30.000 per kilogram. Martha, seorang penjual ikan sungai di Pasar Jaras, Barong Tongkok, Kutai Barat, kepada rri.co.id pada Kamis (21/8/2025), mengaku lebih memilih menjual ikan yang sudah diasinkan karena harganya lebih tinggi dan daya tahannya lebih lama.
Salah satu faktor utama yang menyebabkan tingginya harga ikan asin adalah proses pengolahannya yang tidak sebentar dan masih sangat bergantung pada kondisi alam. Untuk menghasilkan ikan asin, diperlukan waktu paling cepat satu minggu, termasuk tiga hingga empat hari perendaman ikan agar garam meresap sempurna, diikuti proses pengeringan yang mengandalkan sinar matahari.
Ahdi (58), seorang perajin ikan asin jambal roti di Pangandaran, menjelaskan bahwa jika matahari terik, proses pengeringan bisa memakan waktu tiga sampai empat hari. Namun, jika cuaca mendung, waktu yang dibutuhkan akan lebih lama lagi, yang secara langsung mempengaruhi biaya produksi dan ketersediaan, dilansir dari Mypangandaran.com.
Selain itu, kualitas bahan baku ikan segar sangat menentukan harga jual ikan asin. Ikan asin berkualitas terbaik memerlukan bahan baku ikan segar yang juga berkualitas baik, yang tentu saja memiliki harga beli lebih tinggi. Ini menjadi komponen biaya terbesar dalam pengolahan ikan asin.
Penelitian di Muncar, Jawa Timur pada tahun 1985, yang diterbitkan oleh epublikasi.pertanian.go.id, menunjukkan bahwa lebih dari 82 persen biaya pengolahan ikan asin merupakan biaya untuk membeli ikan segar. Perubahan harga ikan segar secara signifikan akan mempengaruhi keuntungan pengolah, dan ini turut mendorong harga jual produk akhirnya.
Permintaan konsumen yang tinggi, baik dari warga lokal maupun wisatawan, juga menjadi pemicu kenaikan harga. Di Kendari, tingginya permintaan ikan asin, terutama teri halus sebagai oleh-oleh, membuat pedagang dapat memainkan harga tanpa intervensi pemerintah, karena hal tersebut sudah menjadi mekanisme pasar, menurut Kasi Perdagangan Dalam Negeri Disperindag Sultra Darmin.
Hal serupa terjadi di Pangandaran, di mana ikan asin jambal roti menjadi buruan wisatawan. Permintaan yang banyak diiringi pasokan yang terbatas membuat harga ikan asin jambal roti kualitas super bisa menembus Rp90.000 hingga Rp95.000 per kilogram, ungkap Cecep, pedagang di Pangandaran, kepada Mypangandaran.com.
Keterbatasan pasokan bahan baku juga menjadi isu krusial. Dari satu kilogram ikan segar, hanya dapat dihasilkan sekitar tiga ons ikan asin setelah proses pengolahan. Ini berarti ada penyusutan berat yang signifikan, menambah nilai ekonomi per unit produk akhir.
Kondisi ini juga didukung oleh sifat ikan olahan yang lebih tahan lama dibandingkan ikan segar, sehingga daerah penyebarannya dapat lebih luas. Faktor ketahanan ini menjadi salah satu alasan mengapa tingkat partisipasi rumah tangga dalam mengonsumsi ikan olahan cenderung lebih tinggi dibandingkan ikan segar, menurut studi dari epublikasi.pertanian.go.id.
Meskipun harga ikan asin bervariasi tergantung jenis dan kualitasnya, tren kenaikan harga ini mengubah citra ikan asin dari makanan murah menjadi komoditas bernilai ekonomi tinggi. Hal ini mencerminkan kompleksitas pasar, biaya produksi, dan dinamika permintaan-penawaran yang terus berkembang di sektor perikanan Indonesia.
Sumber: epublikasi.pertanian.go.id, Antaranews Sultra, rri.co.id, mypangandaran.com, news.republika.co.id
Editor : ALengkong