JAKARTA - Masa penyelenggaraan haji 2026 semakin dekat. Tinggal sekitar tiga pekan lagi. Di sisi lain perang di kawasan Timur Tengah belum ada tanda mereda. Namun, pemerintah Arab Saudi sudah bersiap melakukan mitigasi, untuk keamanan dan keselamatan jemaah haji.
Di antaranya melalui pembuatan special operation room (ruangan operasi khusus). Fasilitas khusus itu dibangun untuk menjamin kenyamanan kedatangan jemaah haji di bandara. Menteri Haji dan Umrah Saudi Tawfiq Al-Rabiah mengatakan, ruangan operasi khusus itu hasil kolaborasi otoritas penerbangan sipil (General Authority Civil Aviation/GACA) Saudi bersama sejumlah lembaga terkait.
Tawfiq menuturkan kebijakan tersebut diambil di tengah dinamika kawasan yang terus berubah. Di sisi lain, Saudi juga mencatat adanya peningkatan jumlah jemaah internasional. Kondisi itu dinilai membutuhkan fasilitas yang baik, sebagai upaya mitigasi.
"Kementerian telah meluncurkan ruang operasi khusus untuk mengatasi tantangan dan menyediakan layanan kepada jemaah haji yang datang dari luar negeri," kata Tawfiq pada pembukaan Forum Umrah dan Ziyarah di Madinah pada Selasa (31/3) malam, sebagaimana dilansir Saudigazette.
Baca Juga: Organisasi HAM Kecam Hukuman Mati Israel
Tak hanya Saudi. Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) juga mematangkan sejumlah mitigasi untuk antisipasi kondisi darurat di Timur Tengah. Fokus utama pemerintah saat ini tidak hanya pada kesiapan teknis. Tetapi juga pada aspek keselamatan jemaah serta kemudahan pilihan ibadah.
Direktur Jenderal Bina Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kemenhaj Puji Raharjo mengungkapkan, mereka telah menyusun langkah-langkah luar biasa untuk menghadapi situasi geopolitik di kawasan.
"Keselamatan jemaah tetap menjadi prioritas utama bagi kami," katanya. Dengan memperhatikan kondisi di Timur Tengah, Kemenhaj tengah menyiapkan beberapa skenario mitigasi yang komprehensif untuk memastikan jemaah dapat beribadah dengan aman dan tenang.
Mitigasi yang disiapkan sebelumnya sudah dipaparkan di DPR. Termasuk di antaranya memilih rute penerbangan tidak di langit negara yang sedang berkonflik. Pemilihan rute ini tentu menimbulkan konsekuensi biaya yang membengkak, karena lebih panjang. (wan/bas)
Editor : Pratama Karamoy