Jagosatu.com - Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) secara resmi menolak permintaan Federasi Sepak Bola Iran (FFIRI) untuk memindahkan lokasi pertandingan Piala Dunia 2026 dari Amerika Serikat ke Meksiko. Penolakan ini muncul di tengah ketegangan diplomatik yang memanas antara Teheran dan Washington, serta kekhawatiran serius Iran terkait keselamatan tim nasionalnya.
Presiden FFIRI, Mehdi Taj, sebelumnya menegaskan bahwa Iran akan memboikot Amerika Serikat sebagai lokasi pertandingan, namun tidak akan menarik diri dari turnamen. "Kami akan memboikot Amerika, tetapi kami tidak akan memboikot Piala Dunia," kata Mehdi Taj, seperti dilansir Madura Expose pada Kamis (20/3/2026).
Sikap tegas Iran ini merupakan respons terhadap eskalasi konflik yang melibatkan kedua negara, di mana Teheran merasa keamanan delegasinya tidak dapat dijamin jika bermain di tanah Amerika. Pernyataan ini sekaligus menepis spekulasi sebelumnya yang menyebutkan Tim Melli akan mundur sepenuhnya dari ajang empat tahunan tersebut.
FIFA, melalui juru bicaranya, merespons keinginan Iran ini dengan sikap yang disebut 'dingin'. Badan sepak bola dunia itu berharap semua tim peserta bertanding sesuai jadwal yang sudah diumumkan jauh-jauh hari, tepatnya pada 6 Desember 2025, seperti dilaporkan Detik pada Jumat (20/3/2026).
Juru bicara FIFA juga menyatakan bahwa pihaknya terus menjalin komunikasi dengan semua asosiasi anggota yang berpartisipasi, termasuk Iran, untuk membahas perencanaan Piala Dunia FIFA 2026. Namun, tidak ada indikasi FIFA akan mengabulkan permohonan pemindahan venue yang diajukan oleh Iran.
Ketegangan kian meruncing setelah mantan Presiden AS, Donald Trump, mengeluarkan pernyataan provokatif. Meski mengizinkan Iran bermain di Amerika, Trump menegaskan bahwa pemerintahannya tidak menjamin keselamatan para pemain Iran, sebuah pernyataan yang dianggap sebagai intimidasi diplomatik.
Situasi ini menempatkan FIFA dalam posisi dilematis, terjepit antara menjaga regulasi olahraga dan menghadapi kedaulatan politik antarnegara. Sebelumnya, Presiden FIFA Gianni Infantino sempat berupaya memastikan partisipasi Iran di AS dan bahkan mengklaim Trump telah memberikan jaminan keamanan, namun jaminan tersebut kini dianggap tidak lagi relevan oleh Teheran.
Iran sendiri tergabung di Grup G Piala Dunia 2026, bersama dengan Belgia, Mesir, dan Selandia Baru. Ironisnya, seluruh pertandingan di grup tersebut dijadwalkan berlangsung di Amerika Serikat, wilayah yang kini dianggap tidak aman bagi delegasi Iran akibat konflik berkepanjangan.
Menteri Olahraga Iran, Ahmad Donyamali, menyatakan bahwa konflik yang telah berlangsung selama hampir satu tahun dan mengakibatkan ribuan korban jiwa di pihak rakyat Iran, membuat kondisi untuk berpartisipasi di AS tidak ada. "Orang-orang kami tidak aman, dan secara fundamental, kondisi untuk berpartisipasi tidak ada," jelas Donyamali, dikutip dari Beritadata.
Di sisi lain, Meksiko menyambut terbuka keinginan Iran untuk bermain di negaranya jika FIFA mengizinkan pemindahan venue. Dukungan diplomatik juga datang dari Duta Besar Iran untuk Meksiko, Abolfazl Pasandideh, yang mengkritik kurangnya kerja sama AS terkait visa dan logistik bagi delegasi Iran, menurut laporan Bola.net.
Piala Dunia 2026 akan mencatatkan sejarah sebagai turnamen yang digelar di tiga negara sekaligus: Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Penolakan FIFA terhadap permintaan Iran ini menjadi pukulan telak bagi Tim Melli dan menambah kompleksitas persiapan turnamen.
Jika FIFA gagal memediasi tuntutan pemindahan venue ini, Piala Dunia 2026 bukan hanya akan kehilangan satu kontestan kuat dari Asia, tetapi juga berisiko kehilangan kredibilitasnya sebagai turnamen yang seharusnya menyatukan dunia di tengah badai perang, seperti diulas Madura Expose. Dilema ini menunjukkan bagaimana geopolitik dapat secara langsung memengaruhi event olahraga global terbesar.
Sumber: Maduraexpose.com