Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Peserta Difabel Ikut UTBK dengan Fasilitas Khusus

P
TAK INTERVENSI: Nabili Iqbal Setiya Aji (kiri), penyandang disabilitas peserta UTBK di Unesa, mendengarkan soal lewat headset kemarin (23/4).(UNESA)
TAK INTERVENSI: Nabili Iqbal Setiya Aji (kiri), penyandang disabilitas peserta UTBK di Unesa, mendengarkan soal lewat headset kemarin (23/4). (UNESA)

Advertisement

SURABAYA – Inklusivitas menjadi poin utama dalam pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) di sejumlah Perguruan Tinggi Negeri (PTN) Surabaya, Jawa Timur (Jatim), kemarin (23/4). 

Pihak kampus menyediakan fasilitas pendukung mulai dari pendamping khusus, komputer aksesibilitas, dan ruang tes sendiri guna memastikan kenyamanan peserta penyandang disabilitas.

Di Universitas Airlangga (Unair), sebanyak 22 peserta difabel mengikuti UTBK pada sesi kedua. Pelaksanaan tes berlangsung dengan pengawasan ketat serta dukungan fasilitas khusus dari panitia. "Kami memastikan seluruh peserta difabel dapat mengikuti ujian dengan nyaman dan setara," ujar Wakil Rektor Bidang Akademik, Mahasiswa, dan Alumni Unair Mochammad Amin Alamsjah kemarin.

Advertisement

Dalam ujian tersebut, kampus menyediakan ruang ujian khusus, perangkat komputer dengan fitur aksesibilitas, hingga pendamping sesuai kebutuhan peserta. Sarana tersebut bertujuan meminimalkan hambatan teknis selama ujian berlangsung. "Kami sudah memetakan kebutuhan peserta sejak pendaftaran. Sehingga, seluruh kebutuhan dapat dipenuhi secara tepat," ucap Amin.

Fasilitas serupa juga disediakan Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Sebanyak enam peserta UTBK penyandang disabilitas yang mengikuti ujian mendapatkan satu pendamping untuk memastikan proses ujian berjalan lancar.

Advertisement

Untuk peserta tunanetra, soal disajikan dalam bentuk audio menggunakan perangkat Non Visual Desktop Access (NVDA). Layar komputer tidak menampilkan teks, namun soal hanya dapat diakses melalui perangkat headset yang dipakai peserta. Sistem ini memastikan pendamping tidak memiliki akses terhadap materi ujian.

Sementara itu, peserta tunarungu ditempatkan dalam satu ruangan dengan pendekatan visual. Meski mendapatkan pendampingan, panitia memastikan pendamping tidak mengintervensi terhadap jawaban peserta.

Wakil Rektor I Unesa Martadi menyampaikan, pendamping hanya membantu dari sisi teknis. "Sistem ini kami rancang agar tetap adil sekaligus menjaga integritas," paparnya. (dho/omy/aph)

Advertisement
Editor : Pratama Karamoy
Sumber : Koran Jawa Pos

Artikel Terkait

Sindikat Joki UTBK di Unesa Loloskan 114 Mahasiswa

Sindikat Joki UTBK di Unesa Loloskan 114 Mahasiswa

Sindikat joki Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) yang tertangkap di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) pada 21 April lalu, beraksi terstruktur, rapi, dan sistematis. Modus yang menyerupai film Bad Genius. Mereka....

Petani Tebu Desak HPP Gula Naik

Petani Tebu Desak HPP Gula Naik

Petani tebu menuntut harga pokok penjualan (HPP) gula naik. Dewan Pimpinan Nasional Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (DPN APTRI) mendesak HPP segera dinaikkan menjadi Rp 16.875 per kilogram di tengah anjloknya harga

Empat Pelaku Rudapaksa Massal di Sampang Dituntut 4 Tahun Penjara

Empat Pelaku Rudapaksa Massal di Sampang Dituntut 4 Tahun Penjara

Penanganan kasus dugaan rudapaksa terhadap anak perempuan di bawah umur yang melibatkan 27 terduga pelaku di Sampang masih berlangsung. Dari 10 tersangka yang telah diamankan, enam di antaranya sudah disidang....

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer