Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kacamata Pintar Meta Bantu Tunanetra Rekam Musik dan Unggah Karya

P
BANYAK FITUR: Seorang wanita mencoba kacamata pintar Meta di Washington beberapa waktu lalu. (Foto: SAUL LOEB/AFP)
BANYAK FITUR: Seorang wanita mencoba kacamata pintar Meta di Washington beberapa waktu lalu. (Foto: SAUL LOEB/AFP)

Advertisement

 

BRISBANE – Kacamata pintar berbasis kecerdasan buatan (AI) buatan Meta membuka peluang baru bagi penyandang tunanetra untuk berkarya secara lebih mandiri. Tak hanya membantu membaca teks dan mengenali benda, perangkat tersebut juga memungkinkan pengguna merekam musik hingga mengunggah hasil karyanya ke internet tanpa bergantung pada orang lain.

Dilansir dari ABC News, kemarin (15/7), manfaat itu dirasakan penyanyi folk asal Wollongong, Sam Noonan, yang buta sejak lahir. Setelah menyaksikan demonstrasi kacamata AI dalam ajang Vision Australia Expo, dia memutuskan membeli perangkat tersebut.

Advertisement

Noonan memanfaatkan kacamata itu untuk merekam lagu, mengunggah karya secara daring, sekaligus mendeskripsikan gambar yang dibuat cucunya. "Kemampuan tersebut memberikan kebebasan yang selama ini sulit diperoleh," kata Noonan.

Baca Tulisan tanpa HP

Advertisement

Manfaat serupa dirasakan Sam Taylor, penyandang gangguan penglihatan yang juga menjabat sebagai pemimpin teknologi akses di Vision Australia. Melalui perintah suara, kacamata AI mampu mengenali objek dan membacakan tulisan tanpa pengguna harus mengeluarkan telepon seluler (HP).

Menurutnya, kacamata Meta juga menawarkan harga yang jauh lebih terjangkau dibandingkan perangkat bantu penglihatan konvensional. Jika alat bantu khusus dapat dibanderol sekitar USD 5.000 atau sekitar Rp 90 juta, kacamata AI hanya memerlukan biaya sekitar sepersepuluhnya dengan fungsi yang lebih beragam.

Rentan Disalahgunakan

Di balik manfaat tersebut, penggunaan kacamata pintar AI masih menuai sorotan terkait privasi. Peneliti teknologi baru University of Sydney, Milica Stilinovic, mengingatkan kamera yang terpasang pada perangkat berpotensi disalahgunakan untuk merekam orang lain secara diam-diam dan menyebarkannya di internet. Pakar hukum University of Sydney Barbara McDonald menambahkan, penyebaran rekaman pribadi tanpa izin dapat melanggar ketentuan hukum Australia, terutama jika digunakan untuk mengintimidasi atau melecehkan seseorang. (din/gas)

Advertisement
Editor : Pratama Karamoy
Sumber : Koran Jawa Pos

Artikel Terkait

Rusia-Korut Bangun Jalan Penghubung Moskow-Pyongyang

Rusia-Korut Bangun Jalan Penghubung Moskow-Pyongyang

Rusia dan Korea Utara (Korut) hampir menyelesaikan pembangunan jembatan darat pertama yang menghubungkan kedua negara. Infrastruktur tersebut akan menjadi jalur penghubung baru antara Moskow dan Pyongyang melalui....

Trump Diminta Desak Netanyahu Hentikan Kekerasan Tepi Barat

Trump Diminta Desak Netanyahu Hentikan Kekerasan Tepi Barat

Ratusan mantan pejabat militer, intelijen, dan diplomatik Israel mendesak Presiden AS Donald Trump menekan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu agar segera menghentikan kekerasan yang dilakukan pemukim Israel di....

Apple Ciptakan Kacamata Pintar agar Privasi Lebih Terlindungi

Apple Ciptakan Kacamata Pintar agar Privasi Lebih Terlindungi

Persaingan di pasar kacamata pintar berbasis kecerdasan buatan (AI) mendorong Meta untuk menghadapi tantangan baru, yakni meningkatkan perlindungan privasi pengguna. Kehadiran Apple yang dikabarkan akan mengedepankan....

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer