Jagosatu.com - Industri media di Indonesia kini berada di garis depan adopsi teknologi kecerdasan buatan (AI), sebuah langkah yang menjanjikan efisiensi dan inovasi signifikan, namun sekaligus menghadirkan dilema digital serius terkait kesiapan sumber daya manusia dan potensi ancaman terhadap lapangan kerja.
Situasi ini mencerminkan kondisi umum di Indonesia yang menghadapi perkembangan teknologi pesat, namun dengan kesiapan digital tenaga kerja yang masih tertinggal, menciptakan kesenjangan antara inovasi dan kapasitas adaptasi. Data Kementerian Kominfo tahun 2025 menunjukkan bahwa hanya sekitar 23% pekerja Indonesia yang memiliki kemampuan digital tingkat menengah ke atas, sementara 40% pekerjaan di sektor manufaktur, logistik, dan administrasi sudah mulai menggunakan sistem otomatisasi.
Sektor perbankan, media, dan pendidikan menjadi industri yang paling cepat mengadopsi AI, di mana contohnya terlihat dari penggunaan chatbot AI di bank nasional dan algoritma untuk penulisan berita ekonomi serta cuaca secara otomatis oleh perusahaan media digital. Transformasi dunia kerja yang dibawa oleh AI mencakup otomatisasi proses berulang, kolaborasi manusia-mesin, dan perubahan fundamental pada struktur ekonomi, yang secara global diperkirakan akan berdampak pada jutaan pekerjaan.
Bank Dunia dan World Economic Forum (WEF) memperkirakan bahwa dalam dekade 2020–2030, sekitar 300 juta pekerjaan di seluruh dunia berisiko tergantikan oleh otomatisasi berbasis AI, sebuah ancaman yang juga nyata bagi Indonesia. Di kalangan organisasi berita Indonesia, penggunaan AI tercatat mengalami peningkatan signifikan, seperti yang diungkap dalam Indonesia Digital Conference (IDC) pada 28 Agustus 2024 di Jakarta, yang diikuti oleh anggota Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI).
Teknologi AI ini diadopsi dan dimanfaatkan dalam berbagai aspek jurnalistik, mulai dari penyuntingan, penandaan otomatis (automatic tagging), pengisi suara (voice-over), hingga pembuatan avatar untuk presentasi berita. Kemajuan AI, khususnya pembelajaran mendalam (deep learning), juga telah meningkatkan kemampuan jurnalis dalam analisis sentimen yang canggih, bantuan pelaporan real-time, dan pembuatan artikel yang lebih kompleks. Selain itu, AI semakin banyak digunakan untuk pengecekan fakta, membantu memerangi misinformasi dan deepfake, sebuah peran krusial yang diidentifikasi dalam investigasi Centre for Media Transition pada University of Technology Sydney, Australia, tahun 2023. Studi kasus pada media lokal seperti blokTuban.com dan blokBojonegoro.com menunjukkan bahwa AI telah diterapkan dalam persiapan konten, analisis trafik pembaca, dan fitur otomatisasi sederhana, yang berdampak positif pada efisiensi kerja dan percepatan produksi berita.
Namun, penerapan AI di media lokal juga menimbulkan potensi dampak negatif, seperti penurunan orisinalitas konten dan ketergantungan pada sistem eksternal, yang memerlukan perhatian serius dari manajemen media. Inovasi paling terlihat di media penyiaran adalah penggunaan avatar berbasis AI sebagai pembaca berita, seperti yang dilakukan TV One sejak tahun 2023 untuk program “Apa Kabar Indonesia – Malam”, menandai fase baru dalam aplikasi AI di media massa Indonesia. Implementasi AI di industri media tidak terlepas dari berbagai tantangan, termasuk keterbatasan sumber daya manusia yang kompeten dalam pengoperasian teknologi AI, kesiapan infrastruktur digital, dan pola pikir organisasi yang adaptif.
Kepedulian soal bahaya pemanfaatan AI juga muncul dalam konferensi AMSI tahun 2024, menyoroti isu-isu penting seperti perlindungan data pribadi, potensi bias, dan stigma terhadap kelompok masyarakat tertentu yang bisa muncul dari data yang dihasilkan AI. Untuk itu, jurnalis disarankan untuk bersikap skeptis terhadap data dan informasi yang dihasilkan oleh AI, mengungkapkan secara terbuka penggunaan AI dalam proses pembuatan karya jurnalistik, serta memastikan tidak melanggar ketentuan perlindungan data pribadi.
Secara lebih luas, AI juga telah membawa perubahan signifikan dalam praktik Public Relations (PR) korporat di Indonesia, digunakan untuk mempercepat analisis media dan sentimen, mengelola konten media sosial, serta meningkatkan personalisasi komunikasi pemasaran. Transformasi ini menuntut jurnalis dan organisasi media untuk terus memahami dan beradaptasi dengan teknologi AI agar tetap relevan dan kompetitif dalam ekosistem digital yang semakin kompleks dan dinamis, memastikan inovasi berjalan seiring dengan tanggung jawab etis dan sosial.
Sumber: International Journal of Social Science and Humanity
Editor : ALengkong