TOKYO – Jepang melontarkan gagasan besar di bidang energi. Negeri Sakura mengusulkan pembangunan cincin panel surya raksasa yang mengelilingi ekuator bulan untuk memasok listrik ke bumi tanpa henti.
Konsep bernama Luna Ring itu digagas perusahaan konstruksi Jepang Shimizu Corporation. Proyek tersebut dirancang sebagai pembangkit listrik surya luar angkasa yang mampu bekerja 24 jam penuh tanpa terganggu awan, cuaca, atau pergantian siang dan malam di bumi.
The Daily Galaxy kemarin (6/4) menulis, Shimizu menggambarkan deretan panel surya dipasang di sabuk ekuator bulan. Energi yang ditangkap kemudian tidak langsung dikirim dalam bentuk listrik, tetapi diubah lebih dulu menjadi gelombang mikro dan sinar laser. Baru kemudian dipancarkan ke bumi untuk dikonversi kembali menjadi energi siap pakai.
Konsep itu memanfaatkan posisi bulan dan paparan sinar matahari yang relatif stabil di luar atmosfer bumi. Dengan kata lain, Luna Ring ingin mengatasi salah satu persoalan klasik energi terbarukan: pasokan yang naik turun.
Di atas kertas, potensi energi yang dijanjikan sangat besar. Studi konsep menyebutkan, Luna Ring bisa menghasilkan hingga 13 ribu terawatt listrik. Angka tersebut jauh melampaui kebutuhan energi dunia saat ini. Jika kelak benar-benar terwujud, proyek semacam itu bisa memangkas ketergantungan global pada bahan bakar fosil secara drastis.
Baca Juga: Penumpang Pesawat dari Singapura Maksimal Bawa Dua Powerbank
Andalkan Robot
Namun, jalan menuju ke sana jelas tidak sederhana. Lingkungan bulan sangat keras untuk pekerjaan konstruksi. Suhu ekstrem, radiasi tinggi, dan minimnya atmosfer membuat gerak manusia akan sangat terbatas. Karena itu, pembangunan Luna Ring bakal mengandalkan robot canggih dan sistem kendali jarak jauh dari bumi.
Robot-robot tersebut nanti tidak sekadar memasang panel surya. Mereka juga dirancang untuk menggali tanah bulan, mengolah material lokal, dan membangun infrastruktur dasar di lokasi proyek.
Shimizu menilai, regolith (lapisan debu dan batuan halus di permukaan bulan) bisa dimanfaatkan sebagai bahan konstruksi. Material itu berpotensi diolah menjadi semen, beton, dan bahkan serat kaca. Unsur kimia di dalamnya diyakini juga bisa membantu produksi oksigen dan air dengan tambahan material tertentu dari bumi.
Meski demikian, proyek itu masih tahap konsep. Belum ada dukungan resmi dari lembaga antariksa besar seperti Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA) maupun NASA. Skema pendanaan juga belum jelas. (din/dri)
Editor : Pratama Karamoy