WASHINGTON – Pembangkit listrik dan jembatan, dua fasilitas publik itu, disebut Presiden Amerika Serikat (AS) sebagai target serangan besar-besaran. Itu jika Iran bersikeras tak mau membuka Selat Hormuz sampai dengan tenggat hari ini.
"Selasa (7/4) akan menjadi Hari Pembangkit Listrik dan Hari Jembatan, semuanya digabung menjadi satu di Iran. Tidak akan ada yang seperti itu!!! Buka Selat sialan itu, dasar bajingan gila, atau kalian akan hidup di Neraka – LIHAT SAJA!" tulis Trump di Truth Social pada Minggu (5/4), seperti dikutip dari Al Jazeera.
Sebelumnya, Trump memberikan ultimatum 10 hari, terhitung sejak 26 Maret. Selat Hormuz merupakan jalur vital distribusi energi global yang lumpuh sejak konflik pecah pada 28 Februari lalu karena blokade Iran. Hanya kapal yang mendapatkan izin dari Iran yang boleh melintas. Kapal-kapal AS dan negara-negara sekutu dilarang lewat.
Meski retorikanya keras, Trump menyebut, peluang negosiasi masih terbuka. Dia mengklaim, Iran tengah berunding dengan Washington dan kesepakatan bisa tercapai dalam waktu dekat.
Namun, seperti juga berbagai pernyataan Trump sebelumnya, Teheran membantahnya dengan keras. Misi Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut, pernyataan Trump sebagai ancaman terhadap fasilitas sipil yang dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang. "Komunitas internasional memiliki kewajiban untuk menghentikan tindakan ini," demikian pernyataan resmi pemerintah Iran, seperti dikutip dari Tasnim News Agency.
Baca Juga: Hizbullah Klaim Serang Kapal Israel, Presiden Lebanon Serukan Negosiasi
Skema Baru
Wakil Kepala Komunikasi Kantor Presiden Iran Seyyed Mehdi Tabatabaei menyatakan, bahwa negaranya tengah menyiapkan skema baru terkait Selat Hormuz. Salah satunya adalah penerapan biaya transit bagi kapal yang melintas, bahkan setelah konflik berakhir. Dia juga menilai, ancaman Trump sebagai cerminan keputusasaan. "Amerika menggunakan kata-kata kasar karena marah dan frustrasi," ujarnya.
Di sisi militer, Iran menunjukkan sikap tidak kalah keras. Seorang pejabat keamanan senior menyatakan, negaranya telah menyiapkan kejutan besar untuk menghadapi AS dan Israel. Menurutnya, Iran menjalankan strategi perang yang terukur dan berbasis target jelas.
Pernyataan itu diperkuat oleh klaim keberhasilan Iran menggagalkan operasi militer AS yang berusaha menyelamatkan pilot jet tempur F-15E. Dalam operasi tersebut, Iran mengaku berhasil menghancurkan belasan aset militer AS, termasuk helikopter dan pesawat angkut. Namun, Trump mengklaim, si pilot berhasil dievakuasi dengan selamat. (lyn/ttg)
Editor : Pratama Karamoy