Roeroe, Luntungan, Wenas Calon Alternatif BPMS GMIM

  • Bagikan

JAGOSATU.COM – Legacy atau warisan, biasanya kental mengalir dalam satu garis keturunan. Lebih lagi jika berbicara soal profesi Hamba Tuhan, pastinya punya nilai tambah tersendiri bagi masyarakat. Sejalan dengan konteks tersebut, tak ada salahnya juga jika kita menilik mantan-mantan Ketua Badan Pekerja Majelis Sinode (BPMS) GMIM. Yang sepak terjang pelayanannya, kini dilanjutkan oleh suksesor generasi masa kini.

Warga GMIM tentunya masih ingat kepemimpinan mantan Ketua BPMS dua periode Pdt AZR Wenas. Figur yang juga jadi pelopor berdirinya Universitas Kristen Indonesia Tomohon (UKIT) ini memimpin GMIM selang waktu 1942-1951 dan 1955-1967 silam. Ada juga nama Pdt RM Luntungan yang menakhodai GMIM di periode tahun 1967-1979. Serta figur Pdt Dr WA Roeroe yang juga menjabat Ketua Sinode GMIM selang tahun 1979-1990 dan berlanjut di tahun 1995-2000. Bertolak dari ketiga nama di atas, kini generasi baru para mantan pemimpin organisasi gereja terbesar di Sulut ini dilanjutkan oleh, Pdt Dr Adolf Katuuk Wenas MTeol, Pdt Julioner Luntungan MTh dan Pdt Senduk GA Roeroe MTh yang kerap disapa Pdt Roeroe Junior.

Ketika diwawancarai Manado Post, salah satu calon nominasi BPMS, Pdt Dr Adolf Katuuk Wenas MTeol mengatakan, esensi pelayanan tak lain adalah melaksanakan panggilan Tuhan. Soal posisi dan jabatan, kata dia, merupakan hal sekunder yang sejatinya tidak menghalangi pemberian diri melayani jemaat.

“Inti panggilan pelayanan, bukan bicara soal kedudukan apalagi jabatan. Tapi menjadi gembala bagi jemaat, menyelamatkan banyak jiwa dan mewartakan Injil kepada masyarakat,” sebut Pdt Wenas yang juga sempat melayani bersama dengan Wali Kota Bitung Maurits Mantiri ini.

“Yah jika berkenan diberikan kepercayaan, puji syukur tentunya. Begitupun sebaliknya, tidak serta-merta mengurangi spirit pelayanan. Pikul salib pelayanan tetap di atas segala-galanya,” sebut pendeta berdarah Talete, Kota Tomohon ini.

Beralih ke Pdt Julioner Luntungan MTh, pelayan jemaat yang masih memiliki pertalian darah dengan mantan Ketua BPMS periode 1967-1979 Ds RM Luntungan. Kala diwawancarai, pendeta yang pernah berprofesi sebagai sopir angkot ini, mengaku awal mulanya enggan maju sebagai salah satu calon pimpinan BPMS GMIM. Mantan Tenaga Utusan Gereja (TUG) di Pulau Gebe Halmahera Tahun 2001-2003 ini, akhirnya memutuskan siap bertarung usai diberikan mandat oleh alumnus UKIT Tahun 1991.

“Nggak pernah kepikiran sebelumnya, terus terang aja. Hanya karena dorongan dan dukungan dari teman-teman alumnus UKIT Tahun 91, saya kemudian bertekad untuk maju dalam pemilihan BPMS,” beber Julioner, anak bungsu dari tujuh bersaudara ini,

Lanjut dikatakan Pendiri SMK Getsemani Pulau Gangga ini, sorotan publik yang melihat keberadaan pendeta di tahun 1990-an dulu. Sempat menggusarkan hatinya, untuk menseriusi profesi sebagai hamba Tuhan. Tak pelak, dirinya pun sempat menjajal kemampuan wirausahanya, usai menamatkan pendidikan di UKIT tahun 1997 silam.

“Mohon maaf, waktu saya selesai menamatkan pendidikan kependetaan di tahun 1997 lalu, mindset pendeta bisa disebut kurang baik. Karenanya usai pendidikan, saya sempat berjualan beras, koran hingga sopir angkot. Organisasi Basis Angkot Paal Dua saya yang dirikan. Akhirnya seiring berjalannya waktu, saya mencoba meyakinkan diri sendiri hingga menjadi pelayan sampai saat ini,” bebernya sembari menambahkan, esensi penting dalam pelayanan tak lain ada panggilan diri.

Menjadi garam dan terang dunia, dimana pun Tuhan tempatkan, jadi tekad pribadi. Terbukti, kala menjabat sebagai Ketua BPMJ di GMIM Getsemani Pulau Gangga ini, Pdt Julioner Luntungan jadi figur krusial berdirinya salah satu gereja terbesar di Kabupaten Minahasa Utara tersebut.

  • Bagikan