Armada Damkar di Lembeh Mendesak

  • Bagikan
Warga dibantu TNI dan Polri berupaya memadamkan api dengan air meskipun hanya menggunakan peralatan seadanya. (Istimewa)

JAGOSATU.COM – Warga Pulau Lembeh meminta adanya armada pemadam kebakaran (damkar), yang siaga 1×24 jam.
Hal tersebut diutarakan salah satu warga Selvi Kakambong, karena menurutnya, berkaca dari pengalaman yang baru saja terjadi, armada damkar sangat terlambat tiba di lokasi kebakaran yang menghanguskan dua rumah di Kelurahan Kareko, Kecamatan Lembeh Utara, Senin (24/1).
“Mewakili seluruh masyarakat Pulau Lembeh, meminta kepada Pemerintah Kota (Pemkot) Bitung, untuk menempatkan armada damkar. Karena mobilitas damkar dari Bitung melalui laut ke Pulau Lembeh memakan waktu dan itu kami maklumi,” keluhnya, Selasa (25/1).
Sehingga sudah sepantasnya ada armada damkar yang siaga 1×24 jam di Pulau Lembeh, untuk mencegah bencana kebakaran.
“Meskipun ada dua wilayah kecamatan, tetapi satu armada saja sudah sangat membantu warga. Kasihan seperti di Kareko, dalam memadamkan api hanya bermodalkan peralatan seadanya, dengan ember dengan air yang diambil dari sumur,” tambahnya.
Pemerataan pelayanan kepada masyarakat sangat diharapkan, karena lanjutnya, seperti contoh dalam mendirikan usaha pemerintah mewajibkan warga untuk mengurus Fiskal. Dalam pengurusannya mengisyaratkan harus membayar retrebusi pemadam kebakaran.
“Kami minta pemerataan, Pulau Lembeh jangan dianak tirikan, sejatinya mendapat pelayanan yang sama dengan di wilayah daratan Kota Bitung,” tandas dia.
Apalagi lanjutnya, di Kelurahan Papusungan Kecamatan Lembeh Selatan, sudah ada pangkalan pemadam kebakaran yang merupakan bangunan representatif, yang kini disewa Bank Sulut Go.
“Sudah ada bangunannya, sehingga sudah sangat menunjang untuk disediakan armada beserta petugas pemadam kebakaran,” pungkasnya seraya mengatakan, sebagai bentuk pertimbangan, perkembangan di Pulau Lembeh sudah semakin pesat, sehingga audah sangat layak untuk adanya armada damkar.
Sementara itu, Kasat Pol-PP Kota Bitung Steven Suluh saat dikonfirmasi, menjelaskan jika hal tersebut sudah direncanakan.
“Sudah direncanakan atas petunjuk langsung Bapak Wali Kota Bitung,” jelas Suluh.
Tetapi untuk armada damkar yang akan ditempatkan di Pulau Lembeh menurutnya, harus kendaraan dengan spek yang berbeda.
“Contohnya, kendaraan dobel kabin yang dimodifikasi, karena medan dan lokasi di Pulau Lembeh banyak menanjak dan turunan, kemudian jalan kecil. Jadi bukan asal kendaraan damkar,” tambah Suluh.
Tak hanya itu, dalam menunjang operasional damkar di Pulau Lembeh, mesti diperhatikan soal ketersediaan hydrant.
“Tetapi untuk antisipasi yaitu sumur-sumur yang banyak air milik warga akan diatur dalam menunjang operasionalnya,” pungkas mantan Kepala BKD ini.(tr-01)

  • Bagikan