Fenomena Baru Anak Mengamen di Jalanan, Diduga Ada Eksploitasi di Kota Layak Anak Ini

  • Bagikan
Salah satu bocah lelaki saat ngamen di lampu merah Tugu Cakalang, Senin (10/1) siang.(Angky/JagoSatu)

JAGOSATU.COM – Dugaan eksploitasi anak nampak terjadi di Kota Bitung. Fenomena baru tersebut, terpantau di lampu merah Tugu Cakalang, Senin (10/1).
Seorang anak lelaki, dengan umur sekira 10 tahun, mendekati setiap pintu kendaraan yang berhenti kemudian bernyanyi, sembari tangan satunya menepuk kaca kendaraan, dengan tangan yang satunya dibuat pada posisi meminta.
Sontak hal tersebut menuai reaksi masyarakat, karena Bitung merupakan kota layak anak. Sehingga fenomena itu mesti ditindaklanjuti instensi teknis terkait.
“Pengamen jalanan seperti ini harus segera diperhatikan instansi terkait, karena kalau dibiarkan bisa menjadi marak padahal, kita ketahui bersama, Bitung merupakan kota layak anak,” ujar salah satu pengendara sepeda motor, seraya menyesalkan jika anak tersebut disuruh oleh orang tuanya untuk mengamen.
Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Bitung Meiva Woran, ketika dikonfirmasi kaget mendengar informasi tersebut.
Ia kemudian langsung berkoordinasi dengan Satuan Polisi Pamong Praja (Sat Pol-PP), untuk menindaklanjutinya. Tetapi sayangnya, anak tersebut sudah tidak berada di lokasi saat petugas Sat Pol-PP melakukan pengecekan.
“Hal seperti ini tidak diperbolehkan, anak yang merupakan titipan Tuhan itu, mesti dijaga, dirawat tumbuh kembangnya. Bukan malahan ada di jalanan untuk mengamen,” katanya.
Woran belum menyimpulkan hal tersebut sebagai bentuk eksploitasi, tetapi ia sangat menyayangkan jika kemudian anak tersebut mengamen atas perintah orang tuanya.
“Tetapi yang pasti informasi ini sudah kami kantongi dan jika nantinya kedapatan ada orang tua dengan sengaja menyuruh anak mengamen, pastinya akan diberikan sanksi sesuai aturan, yang akan didahului dengan imbauan dan membuat surat pernyataan tidak akan melakukannya lagi,” tandas Woran.
Diuraikannya, hal itu jelas diatur dalam Pasal 76 I Undang-Undang 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, dimana setiap orang dilarang menempatkan, membiarkan, melakukan, menyuruh melakukan, bahkan turut serta melakukan eksploitasi secara ekonomi dan atau seksual terhadap anak. Para pelaku akan berhadapan dengan ancaman pidana maksimal 10 tahun dan denda hingga 200 juta rupiah.
Ia mengimbau orang tua untuk tidak lalai menjaga anak, sebab sudah kewajiban orang tua untuk memenuhi 10 hal anak. diberdayakan.
Terpisah, Kepala Bidang Ketenteraman dan Tibum Satpol-PP Bitung, Katrina Kansil ketika diwawancarai mengatakan, pihaknya tidak segan untuk menindak kegiatan yang mengganggu ketertiban umum, sesuai dengan Perda Nomor 1 Tahun 2003.
“Seperti anak yang mengamen itu, jika kedapatan orang tuanya akan dipanggil untuk diklarifikasi,” terangnya.(tr-01)

  • Bagikan