Tinggal di Gubuk Kain Usang, Bupati: Kita Bangun yang Lebih Layak

  • Bagikan

JAGOSATU.COM – Berat atau ringan, jalan takdir harus dijalani. Secuil harapan untuk hidup bahagia bersama keluarga di usia senja, sepertinya tidak dirasakan oleh Soroini Tompunu (85), warga Desa Popodu, Kecamatan Bolaang Uki, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel).

Mata lesuh berhias keriput di wajah seolah mengisahkan perjalanan hidup Nenek Soro yang tidak seberuntung orang tua pada umumnya. Tinggal di gubuk sederhana seluas 4 x 3 m dengan dinding dari kain usang. Barang-barang milik Nenek Soro menumpuk tidak beraturan di pojokkan, termasuk alat dapur dan pakaian bekas yang diisi dalam karung.
Ditemui wartawan Manado Post Digital (MPD), Senin (25/10), Nenek Soro menjalani kesehariannya di gubuk ditemani cucu perempuannya Suten (15).


Berstatus yatim piatu, sejak kecil Suten bersama dua orang kakaknya Gilang (20) dan Sukman (25) dibesarkan oleh Nenek Soro. Kini Gilang bekerja sebagai penambang di Kalimantan sementara Sukman tukang kebun harian di Bolsel.
Cerita dari Nenek Soro, selama perjalanan hidupnya, ia sudah empat kali menikah. Keempat suaminya telah meninggal dunia. Ia dikaruniai tujuh orang anak, empat laki-laki dan tiga perempuan.


Sekarang ia menghuni gubuk yang jauh dari kata layak. Sebetulnya, Nenek Soro dulunya tinggal di rumah anaknya yang keempat, Honjo (50-an). Tapi ia lari dari rumah. Alasannya miris, katanya takut anaknya. “Honjo bademon lantaran banyak tai ayam dalam rumah, kong dia bage deng tamako itu dinding (Honjo mengamuk karena banyak tai ayam dalam rumah, terus dia hantam kapak itu dinding).” “Saya tako, jadi saya lari (Saya takut, jadi saya lari),” ungkap Nenek Soro dengan nada sendu.


Nenek Soro mengaku sudah bertekad tinggal di gubuk itu. Sebidang tanah tempat gubuk itu berdiri merupakan warisan dari suaminya yang keempat. “Dulu waktu saya masih kuat sama-sama deng paitua jaga iko baparas padi, doi kitorang tabung-tabung beli tanah ini (Dulu sama-sama dengan suami saya sering ikut memaras padi. Uang yang kita dapat ditabung-tabung untuk beli tanah ini),” katanya.


Kurang lebih dua bulan Nenek Soro tinggal di gubuknya. Untuk makan sehari-hari Ia banyak menerima uluran tangan dari anak, cucu dan tetangganya. “Saya yang penting ada beras. Kalo so ada nasi biar cuma sayor atau sedang garam pun saya so bisa makan (Saya yang penting ada beras. Kalau ada nasi biar cuma sayur atau garam pun saya sudah bisa makan),’’ ucap Nenek Soro.


Kendati rumah Poppy (40-an) anaknya yang kelima hanya berdiri tepat di belakang gubuk bekas kantin, itu Nenek Soro sepertinya enggan membebani anaknya yang juga nampak hidup pas-pasan. “Mama tidak mau tinggal di rumah, jadi saya paksa kalau mau tidur di rumah saja. Tetapi kalau siang dia balik lagi di tempat itu, bahkan memasak sendiri,” beber Poppy.


Kondisi ini lantas menggugah hati Bupati Bolsel, Hi Iskandar Kamaru. Senin kemarin, ditemani sejumlah pejabat Pemkab, Kamaru menemui langsung Nenek Soro. “Insya Allah besok (26 Oktober 2021) kita akan bangun tempat tinggal Nenek Soro. Pakai bahan-bahan yang kuat termasuk cor dan plester, supaya lama ditinggali.” “Saya berharap, ke depan anak-anak Nenek Soro lebih memperhatikan kondisi orang tuanya. Sudah tua rentah harus benar-benar dijaga,” imbau Bang Is, panggilan Presidium KAHMI Sulut ini. (MPD)

  • Bagikan