Capres Muncul Lewat Kaderisasi

  • Bagikan
Hasto Kristiyanto

JAGOSATU.COM – Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto mengingatkan bahwa surat instruksi partai kepada kader, agar tak berbicara mengenai capres-cawapres untuk Pilpres 2024. PDIP menilai, soal pemimpin nasional itu bukan hanya melibatkan keputusan partai. Tapi, juga harus muncul dari kehendak rakyat serta ada unsur campur tangan Tuhan. Hasto mengatakan, di surat itu, kader memang diinstruksikan tak bicara soal capres-cawapres yang akan diusung di Pilpres 2024.

“Karena untuk menjadi pemimpin di republik ini betul-betul muncul sebagai kehendak rakyat.”

“Ada campur tangan dari Tuhan Yang Maha Kuasa, dan mekanisme partai,” kata Hasto menjawab pertanyaan wartawan, usai pertemuan dengan DPP Gerindra, tengah pekan lalu.

Dalam surat DPP bernomor 3134/IN/DPP/VIII/2021 yang ditandatangani Ketua Umum PDIP Megawati Sukarnoputri dan Sekjen Hasto Kristiyanto pada 11 Agustus 2021, semua kader partai dilarang berbicara dan menanggapi isu capres-cawapres 2024.

Kata Hasto, kongres partai sudah mengamanatkan agar keputusan menyangkut pemilu dan pemilihan presiden-wakil presiden, diambil oleh Ketua Umum Megawati Sukarnoputri. PDIP juga menyadari prioritas saat ini adalah penanganan pandemi Covid-19. “Kongres sudah mengamanatkan kepada Ibu Ketua Umum untuk memutuskan siapa capres dan wapres yang akan datang, dan kehendak rakyat itu sebagai panduan yang terbaik.”

Hasto Kristiyanto mengatakan PDIP terus melakukan kaderisasi untuk menyiapkan pemimpin bangsa dan negara. Termasuk, untuk sosok yang bakal dicalonkan di Pilpres 2024. “Bagi PDIP siapapun di dalam proses Pilpres 2024 itu melalui suatu persiapan melalui kaderisasi kepartaian,” kata Hasto di Kantor DPP PDIP, Sabtu (23/10). Hasto mengakui, PDIP masih menyiapkan proses kaderisasi tersebut.

Yang berasal dari kalangan pemerintahan seperti Puan Maharani, Ganjar Pranowo, Tri Rismaharini, Abdullah Azwar Anas, hingga Olly Dondokambey. Sedangkan dari internal partai ada Prananda Prabowo dan Ahmad Basarah.

“Partai terus menyiapkan langkah-langkah kaderisasi bagi hadirnya pemimpin untuk bangsa dan negara. Termasuk di dalamnya ada Mbak Puan, ada Pak Ganjar Pranowo, dari kalangan pemerintahan ada Bu Risma, kemudian ada Pak Anas dari Banyuwangi, ada Pak Olly juga.”

“Dari jajaran internal partai yang tidak duduk di dalam pemerintahan, ada juga sosok seperti Mas Prananda Prabowo, Pak Ahmad Basarah, dan sebagainya,” beber Hasto. Kendati terus menyiapkan kaderisasi tersebut, Hasto menyadari keputusan memilih pemimpin bagi Indonesia nantinya ada di tangan masyarakat sendiri. “Tapi pada akhirnya rakyat yang menentukan,” ucapnya.

Kemunculan nama Prananda Prabowo, kakak tiri Puan Maharani, membuat konstalasi internal diprediksi tidak hanya terpusat pada isu Puan-Gandjar. Prananda bisa jadi kartu AS Megawati dalam menangkal berbagai isu yang menerpa seiring memanasnya internal partai akibat munculnya Ganjaris, relawan pendukung Gandjar sebagai Capres. Apalagi dalam berbagai survei, nama Puan masih tertalu jauh dengan kandidat lain untuk presentase elektabilitas. 

Sejumlah kader PDIP di Sulut yang dihubungi via WhatsApp enggan merespon balik. Hanya satu orang yang membalas. Itu pun sambil mewanti-wanti untuk tidak ditulis namanya. ‘’Kami sama sekali tidak boleh mengeluarkan statement apapun soal capres. Tolong jangan dimintai pendapat. Bisa kena sanksi partai,’’ tulis kader yang termasuk dekat dengan Bendahara Umum DPP, Olly Dondokambey (OD). OD sendiri dalam berbagai kesempatan selalu menjawab, keputusan rapimnas dan kongres, itulah finalnya. Sekarang ini belum ada. Dan belum bisa para kader bicara capres,’’ terang pria yang juga Ketua DPD PDIP Sulut itu.

Gubernur Sulut yang digadang bakal masuk kabinet Joko Widodo-Maruf Amien pada reshuffle November mendatang, itu menyatakan statement terpusat ke DPP yakni langsung dari Sekjen Hasto Kristanto.  Beda dengan PDIP, Gerindra tidak malu-malu menyatakan bahwa mereka konsen untuk mengerek elektabilitas sang Ketum Prabowo Subianto. Begitu pula dengan PKS, yang sudah menyatakan diri akan mengusung kader sendiri, Habib Dr Salim Segaf Aljufri, yang juga Ketua Dewan Syuro. Sementara PKB komit dengan Muhaimin Iskandar, sementara Partai Golkar makin percaya diri mengusung Ketum Aiurlangga Hartarto. Golkar bahkan sudah mencanangkan kemenangan pada 2024, bertepatan dengan kegenapan 60 tahun usia partai beringin tersebut. (MPD)

  • Bagikan